04 Nov 2018

KONTRAK TURNKEY DENGAN RISK TRANSFER

Pelaksanaan Kontrak EPC terdapat berbagai macam bentuk-bentuk kontrak yang menarik dalam hal pelaksanaannya, salah satunya kontrak turnkey. Kontrak Turnkey adalah suatu kontrak dimana si pemilik proyek dapat melakukan pembayaran sepenuhnya kepada pemberi jasa proyek apabila pekerjaan tersebut siap untuk diproduksi. Pemilik proyek mendapat kesempatan untuk memutar modal terlebih dahulu sampai dengan pekerjaan selesai sehingga memperoleh keuntungan atas perputaran modal tersebut. Keadaan tesebut tentu lebih ringan dibanding jika harus ada dana stand by bagi penyedia jasa konstruksinya.

Turn key sangat mirip dengan kontrak Rancang-Bangun/Design Build, pada jenis kontrak ini sangat mungkin untuk memisah pekerjaan perancangan dengan pelaksanaan konstruksinya walaupun dilakukan oleh satu penyedia jasa. Penyedia jasa bisa langsung mendapat upah jika menggunakan skema pembayaran termyn sesuai volume pekerjaan yang telah terselesaikan.

Kontrak Rancang Bangun /Design Build. Penyedia Jasa bertanggung jawab secara total (perencanaan dan pelaksanaan). Walaupun mungkin hal ini bermanfaat bagi Pengguna Jasa, namun kurang menguntungkan karena pengawasan kurang pada proses perencanaan dan sulit melakukan perubahan pada pelaksanaan. Penyedia Jasa bertanggung jawab atas perencanaan sesuai keinginan Pengguna Jasa termasuk semua disiplin (sipil, mekanikal, elektrikal, dsb). Pembayaran secara termyn, bukan sekaligus setelah pekerjaan selesai seperti Turnkey .

Pada dasarnya, setiap kontrak itu merupakan suatu choice (pilihan) untuk para pihak gunakan. Walaupun demikian, semua bentuk kontrak EPC terdapat resikonya masih-masing, begitupula kontrak Turnkey juga memiliki resiko pada pelaksanaanya. Resiko dalam melaksanankan pekerjaan akan selalu ada hingga perlu strategi untuk menhadapi semua resiko yang timbul apakah memamg harus dihindari, dialihkan ke pihak lain, atau diterima karena tidak ada pilihan lain. Resiko timbul akibat adanya ketidak pastian dalam pelaksanaan pekerjaan (unpredictable) baik karena factor ekternal (cuaca,alam,politik,dll) maupun akibat factor internal (desain, pelaksanaan). Hal yang menjadi unik didalam resiko kontrak turnkey disini ada istilah “Risk Transfer”, dimana resiko akan ditransfer pada phase tertentu.

Risk Transfer dalam kontrak Turnkey dapat diilustrasikan seperti ini :

Pada phase awal proyek (study kelayakan), seperti penentuan lokasi, kepemiikan lahan,peruntukan ,legal formal, jenis usaha semua resikopekerjaan ini berada di tangan Pemilik. Pada waktu konrak ditandatangani, sebagian besar resiko berpindah ke kontraktor. Pemilik harus memastikan dan yakin bahwa hasil kerja kontraktor telah sesuai dengan mutu yang disepkati atau standar tertentu. Pemilik tidak akan dirugikan akibat kerja yang tidak sesuai standard mutu karena pemilik tidak menggunakan jasa pengawas . Resiko beralih kepada pemilik setelah masa pemeliharaan selesai, kebijakan pemakai lebih menentukan tingkat resiko disbanding dengan keadaan hasil konstruksi. Pengawasan dan kesepakatan mutu serta desain telah menjadi standar yang ditentukan sebelumnya hingga kesalahan sampai tahap operasional kecil.

Hal tersebut memberitahu bahwa kontrak turnkey merupakan suatu kontrak yang tidak mudah. Tingkat kesulitan dalam hal pemubuatan, pelaksanaan dan pengawasan harus dilakukan secara profesional dengan tingkat skill dan pengalaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *